Wednesday, May 21, 2014

Melihat Pesona Wisata Air Terjun di Pulau Mursala

Tapanuli Tengah tidak hanya terkenal dengan obyek wisata pantai yang eksotik. Namun, masih ada destinasi wisata lain yang layak dipromosikan yaitu Pulau Mursala dengan air terjun uniknya.

Pesona yang ditawarkan di Pulau Mursala ini sebenarnya tidak hanya air terjun tapi perairan sekitar yang masih natural. Saat detikcom berkunjung ke area sekitar Pulau ini, terutama di depan air terjun, tampak air bersih berwarna hijau dengan terumbu karang di bawah laut yang natural.

Ribuan ikan kecil berenang melengkapi cantiknya area perairan ini. Derasnya aliran air terjun setinggi sekitar 40 meter yang langsung jatuh ke laut menambah semangat dan menggoda wisatawan yang berkunjung untuk berenang. Wisatawan yang tidak berenang pun bisa terhibur dengan pemandangan laut yang mempesona untuk sekedar mengambil gambar foto.

"Kalau Minggu lebih ramai lagi bang. Banyak yang nyelam, berenang. Banyak juga dari yang Jawa datang. Soalnya unik ini bang," kata salah seorang pemilik perahu sewa, Chaidir Tanjung saat ditemui detikcom di Pandan, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Rabu (21/5).

Bagi wisatawan yang memiliki hobi snorkling, area Pulau Mursala juga bisa menjadi alternatif. Selain di depan air terjun, snorkling bisa dilakukan di sebelah kirinya dengan jarak 70 meter. Menurut warga setempat, dua lokasi ini menjadi daya tarik wisatawan karena kebersihan air serta cantiknya pemandangan warna terumbu karang.

Untuk mencapai lokasi Pulau Mursala, wisatawan bisa menggunakan perahu jenis speed boat dari Pantai Pandan dan Pantai Bosur dengan lama perjalanan dua jam. Tarif sewa perahu yang ditawarkan sekitar Rp 2 juta untuk pulang pergi. Perahu ini bisa ditumpangi ± 20 orang. Namun, karena permintaan sering ramai, maka sebaiknya sehari sebelum penggunaan, wisatawan memberikan uang muka pembayaran sewa. Kalau wisatawan ingin berenang di depan air terjun, maka perahu dan awaknya akan menunggu sampai selesai.

"Kita tunggu sampai selesai. Itu gampang diatur. Yang penting puas," sebut Chaidir.

Adapun sejumlah wisatawan yang ditemui di area air terjun Mursala mengaku belum puas karena minimnya sarana fasilitas seperti tempat makan dan penginapan. Salah seorang wisatawan dari Jombang, Jawa Timur, Rohman Said (34), mengatakan seharusnya obyek wisata sekalas Pulau Mursala sudah dikelola secara maksimal.

"Pemandangannya bagus masih alami. Mantap dah. Tapi, cuma bisa berenang doang. Gak bisa makan, nginep," ujarnya.

Sebelumnya, Bupati Tapanuli Tengah, Raja Bonaran Situmeang, mengatakan Tapanuli Tengah tidak hanya memiliki kekayaan alam wisata pesisir pantai. Selain pantai, dia menyebutkan ada sungai, danau, gunung hingga air terjun. Khusus air terjun berada di Pulau Mursala dinilainya paling potensial karena berbeda dengan obyek wisata lainnya. Pulau Mursala menurutnya memiliki keunikan karena terdapat muara aliran air yang berujung air terjun langsung ke lautan.Pulau Pari

Karena ingin serius mempromosikan, maka Pemkab Tapanuli Tengah saat ini menurutnya sedang giat mencari investor yang bersedia membangun fasilitas penginapan hotel di Pulau Mursala atau pulau sekitarnya seperti Nagodang, Jambe, serta Puti. Adapun Pulau Mursala sendiri masuk wilayah daerah Tapian Nauli.

"Ini yang salah satunya bakal kita maksimalkan juga buat tingkatin PAD kita. Beda, beda sama air terjun lain. Ini masih alami, natural. Air terjunnya juga langsung jatuh ke laut," ujar Bonaran di Lapangan Serba Guna, Pandan, Selasa (20/5), dini hari. (hat)

Saturday, April 26, 2014

Pembangunan Hotel Rugikan Petani Rumput Laut

Ratusan petani rumput laut Pulau Pari, Kec. Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten  Kepulauan Seribu mengaku rugi ratusan juta rupiah.

Kerugian ini diduga diakibat adanya pembangunan hotel bintang tiga di kawasan Pulau Tengah.

Untuk itu, para  petani mendesak pihak kontraktor  menganti rugi atas kerugian yang diderita mereka.

“Kami sudah beberapa kali mengeluhkan kondisi ini, tapi entah kenapa belum ada ditanggapi serius oleh pihak terkait. Para petani meminta kepada pemerintah agar segera menegur pihak kontraktor, sebab akibat pembangunan hotel itu kami  semua resah,” kata Nurdin,36 warga RT 04/04, Kelurahan Pulau Pari.

Dikatakan oleh Nurdin kondisi seperti ini sudah terjadi sejak tahun 2009 silam. Namun, hingga saat ini belum ada solusi sehingga ratusan warga harus kehilangan mata pencaharian. Sebab budidaya rumput laut ini merupakan salah satu andalan warga untuk menopang kehidupannya.

“Kami beberapa waktu lalu mempertanyakan hal itu pada pihak perusahaan. Tapi, hingga saat ini belum ada solusi. Maka dari itu kami berharap pemerintah Pemkot Kabupaten Kepulauan Seribu, segera turun mengatasi hal ini,”katanya dengan nada kesal.

Dia juga menambahkan memang beberapa waktu lalu  saat musim angin barat dan gelombang tinggi, warga Pulau Pari pernah mendapat bantuan dari pengembang Pulau Tengah berupa mie instan dan satu buah kendaraan baktor atau “odong-odong”.

Namun, menurutnya nilai itu tidak sebanding dengan kerugian yang diderita warga. Akibat aktivitas pembangunan proyek tersebut budidaya rumput laut banyak yang mati. “Untuk itu kami akan terus memperjuangkan hak warga Pulau Pari. Kami juga akan menuntut keadilan, ” tutup Nurdin.

Sementara itu, Tiur Maidah Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu saat dikonfirmasi mengaku tak ada solusi lain dalam permasalahan tersebut, terkecuali apa yang menjadi keluhan warga Pulau Pari ini harus disikapi.

“Caranya simpel, yaitu tanggulangi biaya ganti rugi atas tercemarnya rumput laut. Sebab matinya budidaya rumput lain ini diduga akibat pembangunan tersebut,” pungkasnya. (Wandi/d)